Wednesday, 31 March 2010

Bagaimana Rasanya Menjadi Guru

Hari ini, Rabu 31 Maret 2010. Hujan mengguyur kotaku beberapa hari ini. Walaupun hujan, saya merasa asyik dengan suhu dan suasana seperti ini, lebih sejuk rasanya.
Hari ini jam pelajaran terakhir di kelas saya adalah Bahasa Indonesia. Setelah sedikit terlambat masuk kelas karena membeli sendal dulu (haha pekerjaan aneh kan?), saya pun mendengarkan pelajaran dari Pak Muslimin.

Kata Pak Muslimin, hari ini beliau tidak akan mengajar. Kemudian beliau menuliskan tulisan "BE A TEACHER -- Bagaimana Rasanya Menjadi Guru", lalu menjelaskan bahwa hari ini kami akan bermain game "BE A TEACHER". Yak jadi kami akan memeriksa hasil ujian MID Semester para siswa XI IPA 4, yang sebelumnya sudah diperiksa oleh siswa XI IPS 1.

Pak Muslimin pun menjelaskan kriteria penilaian kami dan skor yang akan diberikan pada setiap nomornya pada ujian yang akan kami periksa. Kemudian menuliskan 3 kata yang kami belum tahu apa maksudnya. Pada nomor 1 beliay menuliskan kata "Subjektif" kemudian "Objektif" di nomor 2, dan terakhir kata "Ikhlas". Setelah menjelaskan dan sedikit menulis, beliau lalu membagikan ujian para siswa XI IPA 4 pada kami.

Walaupun saya sudah terbiasa memeriksa ujian TIK saat masih kelas X dulu, saya masih tetap merasa kesulitan memeriksa ujian ini, karena dibutuhkan rasa keadilan dalam memberikan skor tersebut. Karena saya memeriksa ujian salah satu teman baik saya, saya jadi merasa tidak tega memberikan skor rendah pada jawaban yang kurang maksimal. Dan setelah ditotal nilainya cuma 70, dan itu belum memenuhi standar nilai di sekolah. Saya pun mengulangi memeriksanya karna dia teman saya. Hhhmm ternyata dia belum menjawab nomor 9 dan 10, pantas saja nilainya kurang. Ya sudah, dengan berat hati saya tuliskan nilai 70 itu untuk teman baik saya.

Setelah 20 menit, kami semua selesai memeriksa. Pak Muslimin lalu menanyakan bagaimana rasanya memeriksa ujian itu. Kami pun masing-masing berlomba meneriakkan perasaan kami. Ada yang bilang bingung, sulit, capek, hati-hati, dan saya bilang "adil".

Beliau lalu lanjut menjelaskan:
20 menit memeriksa 1 ujian, siswanya ada sekitar 30 orang. Nah 20 menit dikali 30 orang itu akan menjadi 600 menit atau sederhananya 10 jam. Bagaimana dengan guru yang mengajar 4 kelas seperti beliau, atau bahkan 9 kelas? Kira-kira berapa lama waktu yang diperlukan oleh guru-guru untuk memeriksa ujian-ujian itu? Belum lagi kalau nilainya kurang bagus atau jelek. Guru-guru tetap mengusahakan agar nilai-nilai seperti itu menjadi lebih baik karena berbagai alasan dan pertimbangan agar nilai di raport tidak jelek walaupun ada juga nilai yang dipaksakan agar lebih tinggi.
Nah, itu baru tentang ujian. Belum lagi jika guru menunaikan pekerjaannya yaitu mengajar. Dengan sabar guru menjelaskan, menerangkan materi-materi sesuai kurikulum, menjawab dengan lugas pertanyaan-pertanyaan dari siswanya, menghadapi sifat dan sikap para siswanya yang pastinya berbeda-beda, mendidik para siswanya menjadi pribadi yang berbudi pekerti yang baik, serta memperhatikan dan menyayangi siswa-siswa tersebut.
Walaupun siswanya kadang menyusahkan, guru tetap ikhlas membagikan ilmunya pada kita. Semua guru ingin anak didiknya menjadi pintar, bahkan memberikan pengulangan pada materi yang kurang dimengerti oleh siswanya.


Setelah kami mendengarkan ceramah singkat -namun cukup membuka mata kami, para siswa IPS, yang kadang kurang sadar diri-, Pak Muslimin kembali mengingatkan kami akan tingkah laku kami selama ini terhadap guru. Tentang kami yang mungkin pernah dihukum guru karena melakukan kesalahan, mungkin kita dendam dan terus mencelanya bahkan membencinya. Dan tentang seorang guru memiliki kekurangan lalu kita mencelanya di belakang hingga berlebihan. Namun sebaiknya kita lihat dulu dari sudut pandang Sang guru, mengapa beliau sampai menghukum kami. Ya, mungkin karena kami yang sudah lewat batas, membuat kesabaran guru yang sangat tinggi itu menjadi berantakan kemudian menghukum kami.

Kami kemudian disuruh menuliskan tentang guru yang sering kami cela, atau rasa dendam kami terhadap guru yang kadang membuat kami benci terhadap beliau. Hmm ngeri juga pekerjaan menjadi guru itu ckck. Salah satu teman berceletuk bahwa pekerjaan guru itu enak, namun makan hati hahaha tragis memang, tapi itulah kenyataanya. Kasihan juga dengan guru yang sering saya cela... Celaan saya selama ini kepada mereka lebih besar dan banyak daripada ilmu yang mereka berikan. Mungkin hukuman yang pernah diberikan oleh guru kepada saya (saya lupa pernah diberi hukuman atau tidak) memang sudah pantas diberikan pada saya yang mungkin waktu itu sudah melewati batas disiplin dan kesabaran guru.

Setelah kami menulis, Pak Muslimin bertanya, "Bagaimana perasaanmu sekarang? Masih benci dengan gurumu?" teman sebangku saya lalu bilang "Masih". Hahaha rasa bencinya sepertinya sudah tidak bisa dilepas lagi hihi.

Oke. Sekian hari ini. Saya tidak tahu bagaimana cara menutup yang baik, jadi ya begini saja. Ini yang saya tulis saat pelajaran Bahasa Indonesia tadi siang. Terima kasih, Pak Muslimin :)

No comments:

Post a Comment