Wednesday, 12 May 2010

Cerpen Pertamaku

Nah beberapa minggu ini, materi pelajaran Bahasa Indonesia adalah cerpen. Jadi, guru Bahasa Indonesia membimbing kami membuat cerpen. Awalnya saya ogah-ogahan dan berniat sepertinya akan mengerjakannya asal-asalan. Tapi karena satu kalimat "Setidaknya kau pernah buat satu cerpen selama hidupmu" itu saya jadi bersungguh-sungguh membuatnya.

Cerpen pertama dalam pelajaran ini sudah ditentukan temanya, sesuai dengan situasi dan kondisi kami pada saat hari pertama belajar tentang cerpen. Pembukanya adalah isi diary yang kami tulis berdasarkan apa yang kami rasakan pada waktu itu, kemudian dijadikan tema dan akan dilanjutkan dengan cerita super fiksi berdasarkan suasana dalam tema. Ini dia cerpen pertama saya, ya memang sangat bodoh sekali buatan saya ini, tapi saya cukup senanglah.. Setidaknya walaupun jelek, saya sudah pernah membuat cerpen haha :p

PANAS SEKALI! Sejak jam ke-3 tadi, suhu udara di sini semakin tinggi dan bikin gerah. Jam ke-6 pelajaran Bahasa Indonesia, setelah belajar Seni di lantai 2, kami kembali ke kelas. Kelas kami sangat panas sehingga membuat kami menjadi suntuk. Akhirnya Pak Muslimin mengajak kami keluar ke tempat parker motor di sebelah kelas. Alhamdulillah anginnya sepoy-sepoy membuat kami lebih asyik belajar. Kami disuruh menuliskan perasaan kami terhadap suasana kelas dan di tempat kami belajar sekarang. Suasana kali ini bernar-benar menyenangkan, ditambah lagi dengan keceriaan anak-anak Pak Muslimin yang sibuk bermain. Mereka berlarian di antara motor-motor, lalu memetik bunga di dekat pagar dan memberikannya pada kami yang sedang menulis.

Di tulisanku, aku membandingkan suasana panas dan suntuk di kelas dan suasana nyaman di sini. Aku jagi teringat peristiwa 2 bulan lalu. Hari itu panasnya sama dengan hari ini, padahal masih pagi. Kami sekelas sibuk berkipas-kipas, ada juga yang tak henti-hentinya mengomel seperti tante-tante bawel. 5 menit setelah bel pergantian jam, Guru Bahasa Inggris baru terlihat berjalan memasuki kelasku.

Kami pun langsung duduk manis di bangku masing-masing. Beliau tiba di pintu kelas, alisnya berkerut. Mencari-cari sosok yang sering dicarinya setiap mengajar.

“Anto mana?” tanyanya sementara pandangannya menyapu seluruh penjuru kelas.

“Tidak hadir, Pak!” jawab beberapa siswa teman dekat Anto.

“Ckck setiap saya masuk pasti dia tidak ada, susah dapat nilai anak itu nanti.” Katanya sambil menggelengkan kepala.

“Santoso, lambang lokasimu mana?” lanjutnya sinis.

“Di bajuku yang kemarin, Pak. Baju yang ini baru saya beli kemarin.” jawab Santoso sok lugu.

“Ah kamu itu… Setiap hari juga tidak pakai lambang lokasi kok” Hardik Pak Budi seenaknya.

“Loh kemarin saya pakai kok, Pak! Tanya saja Alam. Iya kan, Lam?” bela Santoso sambil melihat ke arah Alam.

“Iya pak, kemarin dia pakai kok.” Kata Alam membela Santoso

“AH KALIAN BERDUA SAMA SAJA! Kamu juga tidak pakai lambang lokasi, Alam!” bentak Pak Budi mengagetkan kami semua. “Sini kalian berdua!”

Baik Santoso maupun Alam tak ada yang mau beranjak dari kursinya. Mereka pasti bosan hampir tiap pekan kena marah terus dan si beruang nyasar ini. Mereka tetap diam di tempatnya. Pak Budi lalu menjelaskan pelajaran hari ini yang berkaitan dengan hari Valentine. Bukannya menjelaskan maksud dari artikel dalam buku, beliau malah bercerita tidak penting tentang pergaulan remaja zaman sekarang. Ditambah lagi dengan kata-kata yang seharusnya disensor, malah dilayangkan bebas begitu saja di depan kami, murid-muridnya. Sungguh guru teladan yang unik.

Cerita-cerita 17 tahun ke atas yang diceritakan guru ini membuat Santoso dan Alam tertawa. Mereka tentu senang mendengar cerita yang tidak seharusnya diceritakan guru tersebut. Namun tawa mereka dianggap celaan bagi Pak Budi. Panas-panas begini memang saat yang tepat untuk bersensitif ria. Mata Pak Budi yang tadinya berbinar-binar bercerita itu berubah menjadi garang. Tawa Santoso dan Alam memang terlalu keras dan mengganggu keasyikannya bercerita.

Spidol yang dipegang Pak Budi dilemparkan ke mereka berdua yang duduk di bangku paling belakang. Spidol itu melayang sangat tinggi dan mengenai langit-langit kelas, menyentuh kipas angin yang sedang berputar kencang membuat spidolnya berbalik arah ke Pak Budi. Dengan indahnya spidol itu mengenai jidat Pak Budi dan menumpahkan sedikit tintanya di wajah beliau.

“BWAHAHAHAHAHAHHAHAHA” seluruh penjuru kelas tertawa terbahak-bahak.

Sungguh senang melihat peristiwa itu, kami yang memang masing-masing mempunyai dendam pribadi pada Pak Budi akhirnya bisa senang dengan keberadaannya. Oh sungguh beliau terlihat begitu tampan kali ini! Beberapa siswa memotret beliau diam-diam. Pak Budi masih berdiri dengan bodohnya di sana. Aku yang merasa kasihan dan sangat sayang pada spidol kelas yang terjatuh di lantai segera mengambilnya. Pak Budi pun sadar dari ke-bengong-annya dan mengambil sapu tangan di saku celananya.

Setelah membersihkan wajahnya yang sedang merah padam itu, dia berjalan cepat ke arah Santoso dan Alam. Geram sekali Pak Budi! Sepertinya seru untuk diabadikan momen bersejarah ini! Hehe

Santoso dan Alam malah lari dari tempat duduknya, melewati bangku Lidya, Desta, lalu Mudji. Sekarang mereka berada di depan kelas. Pak Budi di belakang terlihat sangat kelelahan, wajahnya masih merah padam. Dari telinganya keluar asap, menandakan dirinya sudah sangat marah. Dikejarnya Santoso dan Alam. Kali ini akan lebih melelahkan bagi Pak Budi. Santoso dan Alam berpencar dan tetap saling berkejaran dengan Pak Budi. Beberapa kali Pak Budi singgah beristirahat di mejaku kemudian mengejarnya lagi. Beberapa kali pula dia menabrak tembok belakang karena berlari terlalu kencang dan tidak dapat mengeremnya. Kelas mulai banjir lokal karena keringat mereka bertiga. Lalu setelah kurang lebih 7 menit aksi mendebarkan itu, kulihat Pak Budi mulai oleng, tepat di belakang bangku Santoso dan Alam, beliau jatuh tak sadarkan diri.

“Ini, kakak…” beberapa kuncup bunga Asoka mendarat indah di diaryku. Kulihat Nunu, anak Pak Muslimin tersenyum lalu berjalan ke Tami untuk memberikannya bunga juga. Angin sepoy-sepoy kembali melambaiku.